Di tengah geliat pembangunan daerah dan harapan besar masyarakat, suara pemuda Aceh Timur kembali menggema. Kali ini datang dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Aceh Timur yang secara terbuka menyampaikan harapan agar pemerintah daerah lebih peka terhadap nasib generasi muda. Isu yang mereka angkat bukan tanpa alasan, sebab pemuda di Aceh Timur masih menghadapi problem klasik: terbatasnya lapangan kerja dan minimnya ruang aktualisasi diri.
Aceh Timur, sebagai salah satu kabupaten strategis di pesisir timur Aceh, sejatinya memiliki potensi besar. Sumber daya alam berlimpah, sektor pertanian, perikanan, dan energi menjanjikan, serta posisi geografis yang memudahkan akses perdagangan. Sayangnya, potensi itu belum maksimal berpihak pada pemuda. Banyak lulusan sekolah dan perguruan tinggi yang terpaksa menjadi pengangguran atau merantau ke luar daerah karena minimnya peluang kerja di tanah sendiri.
Apa yang disuarakan IPNU Aceh Timur merupakan cerminan keresahan pemuda yang ingin didengar. Mereka tidak meminta sesuatu yang muluk-muluk, hanya berharap adanya kepedulian nyata dari pemerintah daerah. Bukan sekadar hadir di acara seremoni atau kampanye politik, melainkan program berkelanjutan yang mampu menciptakan lapangan kerja dan ruang kreatif bagi pemuda desa hingga kota kecamatan.
Pemerintah daerah perlu sadar, pemuda hari ini adalah penentu arah pembangunan esok. Jika mereka dibiarkan larut dalam pengangguran dan ketidakpastian ekonomi, jangan salahkan bila angka kriminalitas, penyalahgunaan narkoba, dan kerusakan moral generasi muda terus meningkat. Pemerintah memiliki tanggung jawab moral dan politik untuk memastikan pemuda Aceh Timur tidak hanya menjadi penonton, tapi pelaku utama dalam pembangunan.
Sudah saatnya pemerintah membuka akses pelatihan kerja, inkubator bisnis, pengembangan UMKM, serta memfasilitasi ekonomi kreatif berbasis digital. Selain itu, ruang dialog antara pemerintah dan pemuda harus diperluas, bukan ditutup dengan protokoler ketat. Pemerintah mesti melihat organisasi kepemudaan, dayah, komunitas literasi, dan pelaku usaha muda sebagai mitra strategis.
Peringatan ini bukan bentuk perlawanan, melainkan isyarat cinta terhadap Aceh Timur. Karena generasi muda yang peduli, adalah generasi yang tidak ingin melihat daerahnya tertinggal. Semoga Bupati Aceh Timur mendengar suara ini, dan menjadikannya prioritas dalam sisa masa kepemimpinannya.
Aceh Timur butuh pemimpin yang bukan hanya turun ke lapangan saat panen raya atau pembagian bantuan, tetapi juga saat anak muda terjerat problem sosial dan ekonomi. Saatnya Bupati Aceh Timur lebih peka, lebih peduli, dan lebih terbuka. Bukan hanya untuk pemuda, tapi untuk masa depan daerah ini.
Editor: Andri Saputra
Penulis: Tamzil Aulia ( KETUA IPNU ACEH TIMUR)

إرسال تعليق